Sebahagian Hutan Lindung Taura Dialih Pungsikan,Aparat Berwenang Diduga Tutup Mata

hutan-lindungPEKANBARU,suarariau.com—Kendati didalam Undang-Undang RI No 41 tahun 1999, tentang kehutanan,  telah sangat jelas diatur bahwa setiap pelaku perusak hutan, terutama hutan lindung, akan  diancam pidana penjara kurungan dan dikenakan denda berupa materi ( uang ).

Namun Undang-Undang tentang kehutanan tersebut seakan tidak menyurutkan niat dan keinginan oknum-oknum pengusaha pengambil kayu balok bulat dan pembuka lahan perkebunan kelapa sawit

Kawasan hutan lindung Tahura SS.Hasyim di Pekanbaru-Riau missalnya.Sebahagian besar kawasan hutan ini kabarnya telah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit

Ironisnya, kendati perbuatan kaki tangan oknum pengusaha asal Medan ( Sumut ) ini telah berlangsung tiga tahun lebih, namun oknum aparat penegak hukum setemapat, seperti di Dinas Kehutanan dan Kepolisian setempat masih terkesan “tutup mata”

Bahkan akibat, tindak adanya tindakan dari para oknum aparat penegak hukum di wilayah itu,membuat beberapa warga setempat dengan sesumbar mengatakan kalau berkebun di lahan hutan lindung sangat trend

“Karena luas dan situasi tanah di kawasan hutan Tahura Taman Hutan Raya ( Tahura ) SS Hasyim ini cukup menjanjikan untuk berkebun. Makanya banyak pengusaha yang menanamkan investasinya kemari. Bayangkan, luasnya saja mencapai 6.17 Ha.” Ungkap salah seorang pria brewokan, menjawab suarariau.com, disekitar areal kawasan hutan Taman Hutan Raya SS Hasyim Provinsi Riau

Dan bebasnya sejumlah oknum pengusaha menanamkan investasinya di hutan lindung Tahura, sejak tahun 2002 lalu, diduga akibat, lemahnya pengawasan dan penerapan penegakan supermasi hukum dari pihak aparat berwenang, seperti Dinas Kehutanan Tk I, KSDH dan Kepolisian Republik Indonesia di Pekanbaru-Riau

Sehingga tidak berlebihan jika ada nara sumber yang menyebutkan, kalau Dinas Kehutanan Riau melakukan pembiaran terhadap aktifitas pembukaan perkebunan di hutan kawasan lindung Tahura SS. Hasyim Pekanbaru-Riau

Memang tudingan tersebut sempat dibantahkan adanya surat edaran berupa peringatan dari pihak berwenang di Pekanbaru, seperti Surat Peringatan Hukum Berkebun No 2898/KPHP-MMT/IX/2015 tertanggal 16 Oktober 2015 yang ditujukan kepada beberapa oknum pengusaha perkebunan kelapa sawit di hutan lindung Tahura missalnya

Dalam surat edaran larangan itu, pihak Dinas Kehutanan Provinsi Riau, seakan akan serius melarang para oknum pengusaha untuk membabat hutan  lindung dan menjadikan hutan lindung menjadi lahan perkebunan kelapa sawit

Hal itu dibuktikan dengan adanya pencantuman ancaman di pidana, dan denda berdasarkan Undang 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Undang-Undang No.18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dalam surat edaran tersebut.

Adanya dugaan kalau surat edaran  yang ditanda tangani Ir Fadrizal Labay, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau itu hanya “Ecek Ecek “ diperkuat dengan aktifitas yang tetap berlanjut sampai saat ini dilapangan

Juga diperkuat adanya pengakuan salah seorang sumbe berinitial YY yang menyebutkan,kalau surat edaran tersebut digunakan untuk menakut-nakuti para mafia hutan, agar para mafia kawasan lindung Tahura SS. Hasyim yang merasa terusik, lalu kemudian diduga mendatangi oknum pejabat Dinas Kehutanan Propinsi Riau

Juga diperkuat dengan apa yang disampaikan Harianto. Dimana selaku masyarakat yang perduli ingkungan dan penegakan hukum, dirinya mengaku sangat terkejut, atas keberanian Edy Cahyono.

Selaku salah seorang oknum perambah hutan yang telah pernah menjalani proses persidangan kasus/ perkara perdata di Pengadilan Negeri Bangkinang, akibat digugat oleh Yayasan Riau Madani

Edy Cahyono, dikabarkan tetap masih melakukan aktivitas pembukaan lahan sekitar 375 Ha di kawasan Hutan Lindung Tahura SS Hasyim

Sementara pihak yang berkompten di Dinas Kehutanan Provinsi Riau, saat hendak ditemui dan dikonfirmasi terkait kebenaran surat edaran bernomor  2898/KPHP-MMT/IX/2015,yang bersangkutan disebut sebut tidak ditempat.” Maaf, karena yang berwenang terkait masalah itu, masih dilapangan, jadi kapan kapan saja datang, untuk menemui mereka.” Ungkap, salah seorang pegawai di kantor itu, menjawab surariau.com. ( red )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>