Terkait Perkara Perdata Djohan Cs VS PT Pertamina Cs, Cassarolly SH Hadirkan Saksi Penjual dan Pengelola Lahan

PERTAMINADUMAI, suarariau.com—Seperti diwartakan media ini sebelumnya, bahwa akibat tidak adanya penyelesaian secara kekeluargaan diruang mediasi Pengadilan Negeri Dumai.

Sidang kasus/perkara perdata perbuatan melawan hukum no 28/Pdt G/2016/PN Dum antara Penggugat Djohan melawan tergugat I ( PT Putra Hari Mandiri ), II ( PT Pertamina Unit Pengolahan II Dumai ) dan tergugat III ( PT Pertamina Pusat ) terpaksa dilanjutkan diruang sdang Pengadilan Negeri Dumai, Jalan Bukit Datuk Lama Kota Dumai.

Seperti gelar sidang perkara perdata gugatan Djohan melawan PT Pertamina Kamis ( 16/03/17 ) tadi missalnya.

Pada sidang yang beragendakan mendengarkan keterangan saksi dari pihak Penggugat ini. Cassarolly Sinaga SH selaku Kuasa Hukum Penggugat, sengaja menghadirkan dua orang mantan pemilik lahan sebagai saksi pengungkap fakta dalam perkara tersebut

Jailani dan Sani menurut Cassarolly Sinaga SH, sengaja dijadikan saksi dalam perkara perdata no 28/Pdt G/2016/PN Dum itu. Karena selain kedua saksi diatas kelahiran Pelintung, Kecamatan Medang Kampai Dumai. Kedua saksi diatas menurut Cassarolly juga pihak yang pernah menerima dana ganti rugi tanah/lahan dari suruhan/ kaki tangan Djohan

Dalam keterangan kesaksiannya di depan persidangan Kamis ( 16/03/17 ) saksi Jailani dan saksi Sani mengaku sangat mengetahui sejarah lahan/ tanah yang menjadi objek perkara dalam perkara perdata no 28/Pdt G/2016/PN Dum itu.

Bahkan dalam sidang yang dipimpin hakim Sarah Louis Simanjuntak SH MHum, yang juga sebagai Wakil Ketua di Pengadilan Negeri (PN) Klas IB Dumai itu, kedua saksi membantah adanya patok dan plang PT Pertamina dilahan objek perkara tersebut

“Saya benar benar tidak pernah melihat dan mengetahui ada plang atau patok PT Pertamina di lahan tersebut yang mulia.Kalau sekiranya pihak PT Pertamina ada punya lahan di objek perkara itu.Kenapa tidak ada pihak yang melarang kami menguasai lahan/tanah tersebut.”Ujar saksi Jailani menjawab pertanyaan salah seorang Majelis persidangan

Bahkan lebih rinci saksi Jailani menjelaskan, bahwa sejak tahun 1992 silam dirinya bersama warga lainnya telah membuka lahan perbukitan wilayah RT 06 dengan cara tumbang imas. Dan sejak mereka duduki, kelola dan tanami pohon karet dan jengkol, menurut saksi Jailani  tidak ada pihak yang pernah menegur dan melarang.

Demikian halnya dengan keterangan saksi Sani, saat dipertanyakan Majelis terkait masalah sejarah dan kedudukan objek perkara perdata no 28/Pdt G/2016/PN Dum.Saksi yang mengaku sudah turun temurun lahir dan berdominisili di wilayah Pelintung itu, justru menyangkal adanya lahan/ tanah PT Pertamina di objek perkara tersebut.

“Benar yang mulia.Wilayah objek perkara itu masih wilayah Kelurahan Pelintung Kecamatan Medang Kampai Kota Dumai. Saya berani mengatakan demikian, karena KTP,KK dan surat nikah saya pun masih dari Kota Dumai.” Ujar Sani menjawab pertanyaan Majleis persidangan Sarah Louis Simanjuntak SH Hum ( Ketua Majelis ),Muhammad Sacral Ritonga SH ( Hakim Anggota ) dan Renaldo Meiji Hasoloan Lumbantobing SH MH(Hakim Anggota)

Demikian keterangan kedua saksi kepada Cassarolly Sinaga SH.Dalam penjelasannya kepada Cassarolly dipersidangan.Sani dan Jailani juga membantah adanya lahan/tanah pihak lain dilahan objek perkara tersebut.

Bahkan dalam keterangan kesaksiannya dipersidangan, kedua saksi ini mengaku tidak adanya tanda tapal batas wilayah Kabupaten Bengkaslis dilahan objek perkara tersebut.”Bukti kalau objek perkara itu masih wilayah Kota Dumai, setiap Pilkada dan Pileg, kami warga RT 04 dan 06 masih dapat kartu pemilih dari wilayah Dumai, bukan dari Bengkalis.”Kata mereka

Bahkan diluar persidanga, saat dikonfirmasi sama wartawan, kedua saksi dari Penggugat tetap mengatakan. Kalau PT Pertamina maupun pihak lain tidak pernah menguasai maupun menggarap lahan yang telah mereka jual kepada Djohan maupun anak buahnya

“Dan lagian kalau tanah/lahan objek perkara itu sudah milik PT Pertamina sejak 1975 silam. Lalu kenapa pihak lain yang menjual lahan itu ke PT Pertamina tidak pernah melarang kami mengelola lahan itu.Dan kenapa lahan itu diterlantarkan selama puluhan tahun lebih ?.”Ujar Kedua saksi itu seakan bersamaan menjawab wartawan

Berangkat dari hal itu, Jailani maupun orang tua saksi Sani, membuat legalitas tanah sebagai kepemilikan, Jailani baik warga lainnya yang kemudian menjual lahannya kepada Djohan, mengurus surat tanahnya tersebut dan ketika itu masih surat keterangan tebas tebang.

Semenjak tanaman tua seperti Jengkol maupun Karet ditanamnya diladang yang di buka dan diusahai, Jailani mengaku sudah menikmati buah jengkol hasil panen dari ladangnya tersebut.

Jailani yang menjadi Ketua Rt 04 di kelurahan Pelintung semenjak tahun 1998 itu.Mengaku telah menjual dan menerima uang ganti rugi tanah dari Djohan lewat anggotanya bernama Udin  sebanyak Rp 40 juta per satu surat dengan luas tanah sekitar 800-900 m persegi, akan tetapi diterimanya uang tersebut setelah surat keterangan ganti rugi (SKGR) balik nama dilakukan kedua belah pihak pada tahun 2011 silam.

Bahkan saat pengurusan surat peralihan hak, Surat Keterangan Tebang Imas atas nama mereka ( kedua saksi ) Ke SKGR atas nama Djohan di kantor Kelurahan Pelintung dan Kecamatan Medang Kampai, tidak ada orang atau pihak lain yang melakukan protes.

Saat proses surat menyurat SKGR dimaksut kata Jailani, juru ukur dari kelurahan pun turun ke tanah mereka ditemani ketua Rt 06 maupun pihak Djohan. Artinya telah dilakukan administrasi secara prosedur oleh pihak kelurahan untuk menerbitkan SKGR milik Djohan.( Mulak Sinaga )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>