KONI Tuntut Jaminan Dana dan Perbaikan Infrastruktur Olahraga

WROCLAW, POLAND - AUGUST 10:  In this handout image provided by the World Archery Federation, Ika Rochmawati (INA) aims during the recurve womens gold final at the Archery World Cup 2014 Stage 4 on August 10, 2014 in Wroclaw, Poland. (Photo by Dean Alberga/World Archery Federation via Getty Images) *** Local Caption *** Ika RochmawatiJakarta – SEA Games 2015 Singapura menjadi neraka bagi kontingen Indonesia. Agar tak mengulang hasil serupa, Ketua Umum KONI Tono Suratman meminta pemerintah memberi kelancaran dana dan perbaikan infrastruktur olahraga.

Indonesia hanya ada di peringkat kelima pada SEA Games 2015. Kontingen ‘Merah Putih’ hanya membawa pulang 47 emas, 61 perak, dan 74 perunggu. Hasil itu jauh dari target 72 yang dicanangkan demi finis di peringkat kedua.

Banyak persoalan yang mengiringi persiapan para atlet nasional ke Singapura. Meski jika ditelisik persoalan-persoalan itu bukan masalah baru. Sejauh ini siapapun menteri, ketua umum KONI, dan ketua umum KOI sulit menjamin uang saku atlet dan pelatih serta dana try out lancar sesuai proposal yang diajukan pengurus cabang olahraga di awal tahun.

Kesediaan peralatan latih dan tanding juga selalu menjadi perkara yang mengikuti. Selain itu, beberapa cabang olahraga mulai sering melaporkan tempat latihan yang tidak memadahi.

“Pemerintah tidak pernah mengajak KONI untuk membicarakan persoalan klasik itu. Soal dana, kalau bahasanya pemerintah begini: dananya segini Pak Tono? Mana ada pembicaraan persiapan persiapan SEA Games, Asian Games, mereka hanya bicara money oriented,” kata Tono yang dihubungi detikSport pada Rabu (24/6/2015).

“Kami hanya dikasih anggaran untuk 500 kuota atlet. Silakan otak-atik. Kami prioritaskan cabang-cabang yang berpotensi medali. Bagaimana bisa meraih medali, permasalahan pembibitan saja begini tidak ada dana berkelanjutan. Entah nanti bagaimana untuk 2016?

“Tapi kalau kami diundang, ada pokja, tim kerja, sebaiknya pemerintah harus melihat kepada dana. Dana ini dana khusus yang digunakan untuk pelatnas yang berkelanjutan dan tidak berhenti. Ya uang saku, ya perbaikan alat. Mereka selalu bilang dana APBN selalu sebatas ini.

“Padahal mereka ada badan perencanaan. Tapi mereka tidak pernah duduk bersama-sama KONI, sama-sama Kasatlak Prima. Untuk membahas tahun ke depan ini kebutuhan yang sering dilaporkan dan selalu gagal ini bagaimana solusinya? Tidak pernah ada pencarian solusi.

“Selain itu semestinya pemerintah memperbanyak sarana dan prasarana olahraga di daerah-daerah, sentralisasi, dan daerah yang sudah kaya APBN-nya bisa dibuat itu,” jelas dia.

(mcy/fem)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>