Mafia CPO Dan Inti Marak, Aparat Penegak Hukum Diriau Terkesan Picingkan Mata

Ketua LSM PenjaraBENGKALIS,Suara Riau.Com-Akhiri akhir ini,banyak para pengusaha asal SUMUT ( Sumatera Utara ) yang berlomba lomba untuk menanam/menginvestasikan sebagahian besar dana atau modalnya untuk membuka usaha penampungan minyak Crude Palm Oil ( CPO ) dan Inti ( Carnel ) di Riau.

Hal tersebut kemungkinan,dikarenakan para oknum pembisnis /pengusaha penampungan minyak CPO dan Inti ini bisa meraup keuntungan dua kali lipat dari harga pembelian dari si oknum supir truk dan nahkoda kapal ditengah laut.

Seperti oknum pengusaha asal Medan ( SUMUT ) bernama Kocun,Elin dan sejumlah pengusaha lainnya missalnya.Para oknum pengusaha/pemodal asal SUMUT ini,kabarnya sengaja hijrah dari Medan ( SUMUT ) menuju Riau,untuk mencari kepercayaanya yang bisa mengelola usaha penampungan Inti dan minyak CPO di Jalan Lintas Rokan Hilir,Dumai,Bengkalis dan Siak ( Riau ).

Demi tercapainya harapan bisa mendulang uang besar dari Bumi Lancang Kuning ( Riau ).Oknum pengusaha yang memodali penampungan Inti dan CPO itu kabarnya sengaja membuat kontrak suplay/pemasok Inti dan minayak CPO kesejumlah perusahaan penimbun dan pengolah Inti dan minyak CPO di wilayah Kota Dumai.

Dimana dengan membuat kontrak perjanjian suplay/pemasok Inti dan Minyak CPO kesejumlah perusahaan,oknum oknum pengusaha asal Sumatera Utara itu,bisa memperoleh dan membagikan Deliver Order ( DO ) kepada seluruh kaki tangan oknum pengusaha yang mengelola tempat penampungan di Riau.

Bahkan untuk memuluskan usaha penampungan yang dimodalinya.Para oknum pengusaha asal SUMUT ini kabarnya sengaja mengutus oknum kaki tangannya untuk melakukan lobi/kerjasama dengan sejumlah oknum petugas di PKS ( Pabrik kelapa Sawit ),tempat penimbunan/bongkaran dan oknum berwenang dalam hal penegakan hukum didaerahnya masing masing.

Lokasi penampungan Inti dan Sawit di sekitar kawasan Duri XIII, Kulim KM 9 dan KM 8 ( Kabupaten Bengkalis ),KM 24 dan Sekitar Manggala Jonson,Simpang Batang,Simpang Pemburu ( Kabupaten Rokan hilir ),dan sekitar Jalan raya Kandis ( Kabupaten Siak ) dan Gelombang ( Rokan Hulu ) serta tempat penampungan dipinggir Sungai Mesjid ( Dumai ),missalnya.

Keseluruhan tempat tempat penampungan kabarnya dimodali/didanai oleh oknum pengusaha si mata cipit ( China ) asal Medan ( Sumut ) dan Batam ( Kepri ).Dengan perjanjian menurut sumber berinitial Jn,seluruh barang tampungan,berupa minyak CPO dan Inti yang diperoleh dari hasil pembelian dilapangan,harus ditolak dan dijual kepihak sipemodal awal.

“Benar,nama yang dimunculkan ditempat usaha penampungan CPO ini,pak Bs.Tapi jangan salah,beliau hanya pengelola.Yang punya dan memodali usaha ini adalah paK Ah dari Batam ( Kepulauan Riau ).”Ungkap seorang pria berinitial Kr di Sungai Mesjid Kota Dumai,beberapa waktu lalu.

Demikian halnya dengan pengakuan Pr,kepada reportaseriau.com,warga Rokan Hilir ini,mengaku kalau dianya membuka usaha penampungan Inti dan CPO di KM 24,atas kemurahan hati seorang warga SUMUT berinitial Cun dan Lin.

“Ya,mereka berdua lah yang memberikan modal kepada saya.Kalau tidak bagaimana saya bisa membeli minyak CPO dan Inti dari supir supir truk itu.”Ungkap Pr,seraya menyebutkan kalau seluruh inti dan CPO yang ditempungnya diberangkatkan dan dijual ketempat penimbunan dan pengolahan di Dumai menggunakan DO dari Cun dan Lin

Sementara,salah seorang Kapolres dilingkup jajaran Polda Riau,saat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu lalu” Kalau mengenai media, Polres Bengkalis pun punya media. Kalau media ada menemukan fakta-fakta hukum yang merugikan orang lain. Silahkan dilaporkan,”tegas AKBP A.Supriadi menjawab pertanyaan wartawan

Menanggapi statemen Kapolres Bengkalis itu, Jeckson Manalu selaku pengurus Pemantau Aparatur Negara Propinsi Riau, mengatakan bahwa Kapolres Bengkalis terlalu cepat berkesimpulan,tidak ada orang lain yang dirugikan terkait maraknya tempat penampungan CPO dan inti sawit ilegal di wilayah hukum Polres Bengkalis.

“Dalam Psl 480 HUHPidana ke-1,sangat jelas disebutkan,bahwa barangsiapa membeli, menawarkan, menukar, atau menarik keuntungan,menjual atau menyewakan sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga,bahwa diperoleh dari kejahatan, diancam pidana penjara paling lama empat tahun penjara.Itu baru isi Psl 1,Lalau gimana dengan isi Psl 372 KUHPidana ini ?.”Ujar Jeckson,seakan bertanya kepada reportaseriau.com,Jum at ( 01/03 )

Bahkan menurut Jeckson Manalu, dalam catatannya sendiri ada beberapa perkara dugaan tindak pidana yang melanggar Psl 372 KUHPidana dan pasal 480 ke 1, yang telah disidang di Pengadilan Negeri Dumai dan Pengadilan Pekanbaru.Selurhnya perkara tersebut menurut Jecson telah ingkrah dan mempunyai kekuatan hokum tetap.

“Para sopir tangki diduga menjual CPO kepada para penadah CPO, dan dijatuhi hukuman pidana penjara, karena memasukkan mobil tangki ke lokasi “kencing” CPO ilegal dan menurunkan CPO sebanyak 1 gelang seharga Rp. 300.000,-,”ungkap Jeckson Manalu sembari menunjukkan daftar perkara dugaan penggelapan CPO yang ia maksud.( tim )

About the author /


Related Articles

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *